Saturday, October 15, 2011

The Earth-Scraper




Ada kejutan baru di dunia arsitektur dari Meksiko, yang akan membangun gedung  menakjubkan. Tidak sebagaimana  negara-negara lain, yang berlomba membangun pencakar langit yang menjulang, melainkan mencakar perut bumi.


Para arsitek dari Meksiko kini tengah merancang bangunan raksasa berbentuk piramida terbalik yang akan ditancapkan kedalam perut bumi sedalam 300 m. Gedung ini akan memiliki 65 lantai dari bawah tanah, 35 lantai paling bawah akan dijadikan pusat perkantoran, 10 lantai diatasnya adalah tempat tinggal, 10 lantai berikutnya sebagai pusat perbelanjaan, dan 10 lantai di atas pusat perbelanjaan adalah museum.
Sementara bagian paling atas dari gedung ini akan ditutupi lantai kaca (sebagai skylight, pencahayaan alam) seluas 240 m persegi.



Piramida terbalik ini diharapkan akan memiliki peranan besar terhadap sejarah arsitektur Meksiko. Esteban Suarez, arsitek dari perusahaan BNKR Arquitectura mengatakan, bangunan tersebut akan menjadi pusat budaya baru bagi Meksiko.
"Infrastruktur, perkantoran, pusat perbelanjaan dan kawasan hunian baru di kota ini diperlukan tetapi tidak ada lahan yang tersedia," ungkap Suarez seperti dikutip DailyMail kamis (13/10).
Dikatakan Suarez, di Meksiko sulit untuk membangun gedung tinggi menjulang seperti di negara-negara lain. Dengan banyaknya bangunan bersejarah, hukum federal dan hukum lokal melarang penghancuran. Adapun gedung baru yang boleh dibangun maksimal dibatasi hanya sampai delapan tingkat saja.
Itulah alasan  mengapa gedung ini dibangun terbalik, mencakar perut bumi, The Earth-Scraper, lawan dari Skyscraper.







Friday, October 14, 2011

Gereja Puh Sarang




Kalau di Prancis ada kapel Ronchamp nya Corbusier, maka di Indonesia juga punya, yaitu gereja Santa Maria Puh Sarang Kediri karya arsitek Henri Maclaine Pont. Kedua bangunan ini bisa disejajarkan bukan karena bentuknya, tapi karena sama-sama dibangun dengan mengedepankan interaksi terhadap lingkungan alam sekitar, budaya, dan kearifan lokal (local wisdom). Keagungan bangunan ini bukan karena kemegahannya, tapi dikarenakan kesederhanaan dan kebersahajaannnya, begitu damai dan sakral.


Sejarah, filosofi, budaya dan penghayatan iman tertata unik dan monumental dalam bangunan gereja. Gaya bangunan era Majapahit diusung dalam ornamen-ornamen sakral.
Dibangun tahun 1936 di kaki gunung Wilis, Kediri, Gereja Puh Sarang merupakan intiative project dari pastur Jan Wolters CM dan arsitek Henri Maclaine Pont, yang sebelumnya mendirikan Museum Trowulan Mojokerto. Keduanya memang sangat intens pada budaya Jawa. Perpaduan pemahaman dan apresiasi budaya Jawa dan penghayatan iman Katolik diaplikasikan pada bangunan hingga melahirkan gereja Santa Maria Puh Sarang yang sarat makna.


Material batu hitam utuh (bronjol besar) nampak mendominasi keseluruhan dinding bangunan. Batu-batu ini berasal dari daerah sekitar yang melimpah. Susunan batu-batu ini terlihat natural dan adem menempel di gapura Santo Yusuf dan menara Santo Hendrikus. Begitu kondusif untuk tempat ibadah dan bertemu dengan Sang Khalik.


Bentuk atap bangunan yang 'nyeleneh', setengah lingkaran besar dengan tatanan genteng melengkung ditambah dengan 'topi' bersudut empat, merupakan simbolisasi dari kapal Nabi Nuh yang selamat dari bencana air bah dan terdampar di gunung Arafat. Keempat sudut 'Bahtera Nuh' merupakan simbolisasi empat penulis Injil yang bernaung dibawah salib.


Memasuki bangunan gereja terdapat rangkaian relief dari bata merah, seperti yang umum ditemukan di candi-candi era Majapahit. Relief-relief yang ada merepresentasikan tentang penghayatan iman Kristiani, dan sebagai sarana untuk mengajar umat.




Henri Maclaine Pont