Sunday, November 13, 2011

Viaduct de Millau, France



Selain menara Eiffel, Prancis juga memiliki icon lain, Millau Viaduct atau jembatan Millau, merupakan jembatan tertinggi di dunia, melebihi tinggi menara Eiffel. Karena begitu tingginya jembatan ini seolah berada diatas awan.





Jembatan Millau ini melintasi sungai Tarn dan lembah-lembah di pegunungan Massif Central. Tiang-tiang pancang baja dan beton menembus awan-awan di atas desa Tarn. Pembangunannya sendiri sudah merupakan pemandangan yang luar biasa, apalagi setelah jadi dan dioperasikan pada Desember 2004 lalu, sungguh luar biasa.




Bayangkan bila kita berkendara melintasi awan-awan yang terbang rendah di pegunungan, atau bahkan menggapainya. Jembatan ini diresmikan Presiden Jacques Chirac dalam sebuah upacara yang megah. Jembatan unik ini bukan hanya jadi sarana transportasi tapi juga ajang wisata. Siapa wisatawan yang tak ingin menjajal berkendara bersama awan yang berarak di sekelilingnya



Panjang jembatan ini hanya 2,5 km. Menurut Chirac, pembangunan jembatan ini merupakan keajaiban dan menjadi lambang kemajuan teknik sipil Prancis. Jembatan ini juga sebagai simbol dari kemodernan Prancis.




Adalah Sir Norman Foster, arsitek terkenal Inggris yang merancang jenbatan setinggi 340 m ini, lebih tinggi 16 m dari menara Eiffel. Terbuat dari baja dan beton dan dirancang tahan gempa. Pembangunannya dimulai tahun 2001 dan selesai 2004, lebih lambat satu tahun dari waktu yang dijadwalkan. Hal ini disebabkan oleh faktor cuaca, selain tingkat kesulitannya yang tinggi. Maklumlah jembatan ini selain luar biasa tinggi juga dibangun di lokasi yang tidak biasa, struktur tanah yang tak rata, karena wilayah pegunungan. Digunakan sistem hidrolik untuk menyorong geladak jembatan kedalam tempat seharusnya. Sistem ini disediakan oleh Enerpac Hydraulic Systems, perusahaan yang juga mengangkat jembatan Golden Gate.


Thursday, November 3, 2011

'Toilet' Resto



Apa jadinya bila bentuk-bentuk saniter toilet menjadi inspirasi desain sebuah restoran? Persepsi konvensional sebuah restoran menuntut higeinis, dan suasana kondusif yang jelas bertolak belakang dengan toilet dan kamar mandi. Hanya kreativitas dan fleksibilitas dunia modern yang mampu memutarbalikkan situasi tersebut. Sebuah '.repackaged', itulah yang bisa dinikmati di Modern Toilet Restourant di Mongkok, Hongkong.



Tak heran bila yang ditemukan adalah sebuah wacana yang mendobrak pemahaman standar. Ide 'gila' ini berawal dari munculnya karakter tokoh robot kartun karya komikus Jepang,Jichiwawa, yang suka memainkan 'poop', feces dan melekatkannya pada batang stik es krim. Inspirasi ini membuat Wang Zi-wei, pemilik restoran menyadari bahwa sesuatu yang terlihat jelek, tabu, dan tidak menyenangkan bisa dikemas (repackaged) menjadi tampilan yang atraktif, fun, serta entertaining.



Awal mulanya mereka hanya menjual es krim yang berbentuk toilet flush atau 'poop', kemudian berkembang menjadi konsep pengemasan entertaining yang revolusioner dan banyak menarik minat pembeli. Keberhasilan ini mendorong pemilik mengembangkan tampilan restoran dengan mengambil inspirasi lebih jauh dari pemilik saniter toilet dan kamar mandi. Marton, tulisan bahasa Cina yang berarti toilet diambil sebagai nama restoran yang kemudian berubah menjadi Modern Toilet Restourant pada tahun 2006.



Merajuk nama Modern Toilet maka keseluruhan atmosfer interior sangat kental bernuansa toilet. Di restoran ini elemen furnitur seperti meja, kursi (layaknya restoran konvensional) tidak akan bisa ditemui tetapi diganti dengan deretan stylish monoblock dari acrylic sebagai kursi dan meja berupa buthtub dngan table top kaca. Sensasi unik menjadi semakin intens dengan sentuhan pengolahan grafis 2D yang enerjik dari komposisi bentuk dan warna pada setiap permukaan bidang putih.



Elemen interior dari furnitur yang diambil dari inspirasi bentuk saniter toilet ditata dan dikomposisikan untuk mencapai kualitas visual yang clean, modern, fun dan fresh. Sebuah peforma interior tidak hanya memberi visual tampilan toilet repackaged,yang tidak lagi memiliki kesan negatif tetapi justru hadir unik dan nyaman, meskipun dalam bentuk-bentuk desain kontradiktif.



Desain restoran yang out of the box berhasil menyuguhkan surprise di dalam detail-detail nya. Kehadiran banyak point of interest membuat tatanan interior di restoran ini memiliki vibrasi mood yang terus menggugah rasa penasaran para pengunjung. Aksentusi shower pipe, shower host, gantungan baju / handuk, dan tempat toiletries mengisi sudut-sudut menarik dengan dengan ekspresi bentuk, desain yang unik dan warna atraktif. Selain itu, terhadap artificial urinoir dan deretan toilet lid bermotif bendera beberapa negara dalam satu komposisi warna yang memberikan nuansa pop art yang kental.



Resto ini berhasil menyingkirkan kesan negatif toilet tanpa harus kehilangan korelasi bentuk dan inspirasi. Pendekatan visual grafis sebuah komik juga membantu proses transformasi bentuk-bentuk dari inspirasi toilet dan kamar mandi menjadi kualitas ruang restoran yang nyaman. Begitupun tata cara penyajian juga menjadi bagian dari entertaining restoran ini. Perasaan canggung memasuki restoran ini dikalahkan oleh rasa penasaran untuk menikmati makan di dalam susana yang tidak biasa. Makanan-makanan yang tersaji dalam mangkok miniatur monoblock, bathtub dan gelas urinoir menjadi keunikan tersendiri.


Sebuah transformasi sensasi yang revolusioner sekaligus mengagumkan, ketika ekspresi bentuk dan desain toilet justru menjadi inspirasi bagi keunikan interior restoran. Disinilah keberhasilan elemen arsitektur interior, dan grafis berpadu untuk mencapai sebuah komposisi visual yang enerjik dan atraktif. Sebuah restoran dengan inspirasi desain pernik saniter toilet dan kamar mandi. Menepiskan batasan antara sesuatu yang dianggap tabu serta menjijikkan menjadi pengalaman ruang yang mendobrak pemahaman konvensional. Bagaimana, mau mencoba sensasinya? silahkan membawah makanan / minuman kedalam toilet rumah anda masing-masing, jadi tidak perlu pergi jauh-jauh ke Hongkong, hehehe...

Sunday, October 30, 2011

Masjid Al-Irsyad Bandung



National Frame Building Association memilih Masjid Al-Irsyad, di Kota Baru Parahyangan, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat (KBB), menjadi satu-satunya bangunan tempat peribadatan di Asia yang masuk 5 besar “Building of The Year 2010″. Perhelatan akbar dari para arsitek seluruh dunia ini, menempatkan Masjid Al-Irsyad masuk dalam kategori religious architecture.


Hal yang lebih membanggakan lagi, masjid berbentuk kotak ini menjadi satu-satunya tempat peribadatan di luar gereja. Tempat peribadatan lainnya San Josemaria Escriva Church dari Meksiko, Tampa Covenant Church dari Amerika Serikat, Kuokkaia Curch dari Finlandia, dan Parish Church of St. Luke The Eva dari Prancis. Terpilihnya Masjid Al-Irsyad lewat polling di internet di situs ArchDaily.com untuk kategori rumah ibadah.



ArchDaily adalah situs publikasi arsitektur terpopuler dan berada di peringkat teratas versi Alexa Global Internet Traffic. Situs yang dikelola praktisi arsitektur dan media ini mulai beroperasi sejak 2008. Kesuksesannya berasal dari seleksi yang ketat dalam memilih karya yang layak dimuat. Sekitar 15 ribu karya arsitektur mencoba masuk ke ArchDaily setiap tahun. Masjid Al-Irsyad tampil di antara 2.000 karya yang berhasil masuk.
Sekelompok kurator kemudian menyeleksi sekitar 2.000 karya tersebut untuk masuk dalam 14 kategori Building of the Year 2010. Setiap kategori terdiri atas lima karya arsitektur. Setelah memilih 70 desain arsitektur terbaik, keputusan akhir diserahkan kepada pilihan pembacanya. Pengelola situs mengeluarkan hasil voting pada 15 Februari dan kepopuleran Masjid Al-Irsyad dikalahkan Gereja Tampa Covenant, Florida, Amerika Serikat.
“Tidak jadi masalah tidak menang,” kata Ridwan Kamil. sang arsitek. “Masuk nominasi saja sebuah prestasi buat saya.”



Lalu, apa yang membuat Masjid Al Irsyad,  yang artinya tempat pendidikan, ini berhasil menyisihkan puluhan, bahkan mungkin ratusan tempat peribadatan lainnya? Sepintas bentuk bangunan Masjid Al Irsyad tak menyerupai sebuah bangunan masjid pada umumnya yang “selalu” memiliki kubah.
Bentuknya kotak atau kubus dengan warna dasar keabu-abuan. Namun setelah masuk ke dalam masjid, kita akan merasakan sebuah kesejukan yang biasa ditemui di masjid-masjid. Ornamen di dalam masjidnya sederhana, tapi bisa dikatakan luar biasa. Dikatakan luar biasa karena arsitekturnya relatif sederhana. Tapi justru di situlah keunikannya, sederhana tapi memiliki daya magis yang luar biasa.


Dinding bangunan masjid bertuliskan dua kalimat syahadat dalam bentuk kaligrafi 3 dimensional raksasa, yang tersusun rapi dari bata berlubang. Dari sela-sela lubang itulah berembus angin dan cahaya matahari.



Meski bangunan masjidnya hanya memiliki luas sekitar 1.100 meter persegi dengan daya tampung sekitar 1.500 jemaah, namun memiliki 99 buah lampu yang bertuliskan 99 nama suci Allah SWT atau Asmaul Husna. Pada malam hari, jika semua lampu itu menyala akan terlihat kemegahannya.


Keunikan arsitektur lainnya terletak pada bentuk mihrabnya. Berbeda dengan mihrab masjid pada umumnya yang tertutup rapat oleh dinding bangunan masjid, di Masjid Al Irsyad, mihrabnya dibiarkan terbuka, sehingga nuansa alam pegunungan yang hijau terlihat jelas. Satu lagi keunikannya, mimbar khatibnya dirancang di atas air jernih yang dihiasai ikan berwarna-warni. Tepat di atas air berdiri bola besar, yang bertuliskan kaligrafi Allah SWT.