Friday, October 14, 2011

Gereja Puh Sarang




Kalau di Prancis ada kapel Ronchamp nya Corbusier, maka di Indonesia juga punya, yaitu gereja Santa Maria Puh Sarang Kediri karya arsitek Henri Maclaine Pont. Kedua bangunan ini bisa disejajarkan bukan karena bentuknya, tapi karena sama-sama dibangun dengan mengedepankan interaksi terhadap lingkungan alam sekitar, budaya, dan kearifan lokal (local wisdom). Keagungan bangunan ini bukan karena kemegahannya, tapi dikarenakan kesederhanaan dan kebersahajaannnya, begitu damai dan sakral.


Sejarah, filosofi, budaya dan penghayatan iman tertata unik dan monumental dalam bangunan gereja. Gaya bangunan era Majapahit diusung dalam ornamen-ornamen sakral.
Dibangun tahun 1936 di kaki gunung Wilis, Kediri, Gereja Puh Sarang merupakan intiative project dari pastur Jan Wolters CM dan arsitek Henri Maclaine Pont, yang sebelumnya mendirikan Museum Trowulan Mojokerto. Keduanya memang sangat intens pada budaya Jawa. Perpaduan pemahaman dan apresiasi budaya Jawa dan penghayatan iman Katolik diaplikasikan pada bangunan hingga melahirkan gereja Santa Maria Puh Sarang yang sarat makna.


Material batu hitam utuh (bronjol besar) nampak mendominasi keseluruhan dinding bangunan. Batu-batu ini berasal dari daerah sekitar yang melimpah. Susunan batu-batu ini terlihat natural dan adem menempel di gapura Santo Yusuf dan menara Santo Hendrikus. Begitu kondusif untuk tempat ibadah dan bertemu dengan Sang Khalik.


Bentuk atap bangunan yang 'nyeleneh', setengah lingkaran besar dengan tatanan genteng melengkung ditambah dengan 'topi' bersudut empat, merupakan simbolisasi dari kapal Nabi Nuh yang selamat dari bencana air bah dan terdampar di gunung Arafat. Keempat sudut 'Bahtera Nuh' merupakan simbolisasi empat penulis Injil yang bernaung dibawah salib.


Memasuki bangunan gereja terdapat rangkaian relief dari bata merah, seperti yang umum ditemukan di candi-candi era Majapahit. Relief-relief yang ada merepresentasikan tentang penghayatan iman Kristiani, dan sebagai sarana untuk mengajar umat.




Henri Maclaine Pont

Thursday, October 13, 2011

Notre Dame du Haut Chapel






"Lima tahun terasing di bukit, saya tidak dapat menjelaskan arti sebuah pekerjaan dalam kehidupan saya. Pekerjaan mungkin sekedar suka atau tidak suka, mengerti atau tidak mengerti. Apa bedanya itu bagi saya". Itu diucapkan Le Corbusier ketika merancang Notre Dame du Haut di Ronchamp, Prancis, pada tahun 1950-1955.


Notre Dame du Haut, merupakan karya besar Corbusier, bahkan bisa dibilang sebuah masterpiece dalam dunia arsitektur. Nama Corbusier menjadi terkenal karena kapel yang dibuat tanpa mementingkan prinsip kebebasan, tetapi mengutamakan kemurnian alam. Ia bahkan dianggap sebagai nabi bagi para arsitek.



Pada kapel ini tampak perbedaan karya Corbusier yang dibuat pada tahun 1920-an dengan gaya purist dan karya yang dikerjakan setelah tahun 1950-an yang dipengaruhi aliran mediterania dari timur tengah.



Kapel di Ronchamp ini juga memperlihatkan Corbusier telah menerapkan prinsip rasional sebagai dasar arsitektur modern. Beberapa arsitek yang merancang gereja meniru kapel ini. Mereka tidak memperhatikan sifat individu program Ronchamp dan keunikan lingkungan dimana kapel tersebut dibangun, sehingga hasilnya tak seunik karya Corbusier.














SANTORINI



Terletak di gugusan kepulauan Thira di laut Aegea, lebih kurang sepuluh jam perjalanan dengan kapal laut dari Athena, Yunani. Santorini tidak saja indah panoramanya, bangunan-bangunan putihnya tampil signifikan dari sisi arsitektur. Bahkan keunikannya banyak mengilhami para arsitek ternama dunia. Notre Dame du Haut Ronchamp, Prancis karya Le Corbusier, misalnya, dengan gamblang memaparkan pengaruh bangunan-bangunan di Santorini, dengan warna putih dan ketidakteraturan massanya.

Notre Dame du Haut

Batu-batu karang berkapur itulah yang dimiliki pulau ini. Tidak banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup, hanya rerumputan dan pakis. Kekayaan alam yang dimiliki Santorini hanyalah biru dan heningnya langit sepanjang tahun. Kontur batu karang nan curam bukanlah malapetaka bagi penduduk pulau ini. Bangunan-bangunan putih yang mengikuti kontur batu karang dan berkesan tak beraturan menjadi daya pikat tersendiri Pulau Santorini.





Bentuk bangunan di pulau 'putih' Santorini lahir secara spontan, mengimbangi 'keras' nya alam. Sejauh ini masih banyak diantara kita yang masih terpaku pada mazhab-mazhab arsitektur yang terbelenggu oleh berbagai kaidah estetika dan teori. Bangunan yang lahir dari spontanitas justru tampil menjadi arsitektur signifikan di Santorini.





Lahan yang ekstrem, tidak jarang sudut-sudut tebing mencapai 45-90 derajat 'memaksa' bangunan beradaptasi mengikuti kontur lahan. Ketidakberaturan bangunan ini justru memberi 'jiwa' pada pulau ini. Bukit karang dan berkapur di tengah birunya langit dan laut tampil semarak dengan gugusan bangunan putih.



Beberapa bangunan penting seperti gereja (sebagaian besar penduduk Santorini penganut agama Kristen Orthodocks), didirikan di puncak bukit. Kubah bangunan gereja sengaja dicat biru untuk membedakan dengan bangunan biasa.



Jalan-jalan penghubung yang sempit, susunan anak tangga berliku dan curam menghasilkan sudut pandang sangat beragam. Dinding-dinding yang saling berhimpitan, bertumpuk, siluet atap-atap bangunan tampak seperti pigura alam, membingkai sunset, begitu dramatis!