Thursday, June 2, 2011

LEONARDO DA VINCI



Mona Lisa
"Seni lukis adalah peniruan semata atas kreasi alam yang terlihat. Ia merupakan penggalian subtil seorang seniman atas bentuk alamiah yang dittuntun oleh pertimbangan filsafat dan kecerdasan," ungkap Leonardo da Vinci. seniman genius ini mungkin tidak tertandingi sepanjang sejarah.
Leonardo da Vinci lahir tahun 1452, dari hasil hubungan gelap antara seorang gadis petani dengan pejabat pemerintah di Vinci, sebuah kota kecil dekat Tuscany, Italia.
Menjelang usia 17 tahun ia pindah bersama ayahnya ke Florence. Disini ia magang pada seorang maestro seni lukis, patung, dan arsitek ternama saat itu, Andrea del Verrocchio,selama tujuh tahun. Di bengkel ini pula ia menghasilkan bentuk lukisan imajinatif bersama gurunya yang berjudul "Baptism of Christ". (sekitar tahun 1472)

Baptism of Christ 
Pada tahun itu pula ia memperoleh sertifikat maestro dari organisasi pelukis yang dibawah patronase St. Luke di Florence. Sejak saat itu ia menjadi seniman 'merdeka' yang berhak membangun studionya sendiri dan membubuhkan nama di atas setiap karyanya.
Lukisan yang berjudul 'The Arno Valley' (1473) adalah salah satu yang menampilkan latar lukisan khas disertai kejapan hidup.



The Arno Valley


Keterpesonaan Leonardo tidak berhenti pada penampakan alamiah, tapi ia mempelajari secara detail struktur anatomi manusia dengan cara membedah  mayat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya organ-organ tersebut bekerja.

The Principal Organs and Vascular and Urino-Genital Systems of a Woman (1507)
Teknik fresco (lukisan di dinding menggunakan cat air) dan kontras gelap terang, secara optimal digunakan untuk menampilkan kejapan daya hidup dan ketenangan yang hampir selalu berlatar belakang guratan tajam antara gelap dan terang. Sebagai contoh adalah 'The Virgin and Child with St. Anne'.

The Virgin and Child with St. Anne


Teknik gelap terang ini kemudian dikenal sebagai gaya leonardesque. Acap kali cara penerapan teknik lukis ini dilakukan oleh Leonardo langsung dengan tangannya sehingga menghasilkan sapuan seperti kabut tipis yang disebutnya sfumato. Teknik ini terlihat jelas dan mendominasi keseluruhan warna-warna di dalam lukisan 
'The Lady with an Ermine', potret permaisuri Duke of Milan.

The Lady with an Ermine.

Lukisan yang terkenal 'The last Supper' dibuat tahun 1497 atas permintaan Lodovico Sforza, seorang bangsawan Milan untuk menghias biara Santa Maria delle Grazie. Lukisan ini mengalami kerusakan pada tahun 1517 karena eksperimenya dengan cat minyak. Desain lukisan ini kemudian menjadi lambang keagungan karya seni masa Renaisans. 'The Last Supper' juga mewakili konsepsi artistik periode ini, yang memperlihatkan pergeseran dari ketelitian realistik menjadi lebih abstrak serta lebih ideal, dan serasi.

The Last Supper
Lukisan 'Mona Lisa' yang dilatarbelakangi atmosfir dibuat Leonardo pada tahun 1503 dan diselesaikan sepuluh tahun kemudian (1513). Hingga saat ini 'Mona Lisa' meninggalkan misteri dibalik penampilan dunia nyata dan dunia gagasan di dalam satu kesatuan.
Sejak awal tahun 1490, yang merupakan tahun-tahun saat daya kreasinya mencapai titik puncak, ia telah merancang prototipe mesin pesawat terbang, kendaraan bawah laut, mesin perang strategis, jembatan knock-down, transportasi, dan menyusun cara-cara bertahan yang solid, seperti pembangunan benteng yang dikelilingi parit dan bendungan. Namun ia menolak mengumumkan hasil penemuannya ini karena menurut pendapatnya "manusia, secara alamiah memiliki sifat buruk". Ia menghindari penggunaan hasil temuan mutakhirnya untuk keserakahan manusia. Oleh karena itu bukan keanehan bila ia menulis catatan hasil ciptaannya dalam bentuk huruf mikroskopik yang sangat sulit terbaca oleh mata telanjang.








Leonardo da Vinci

FRANK O GEHRY

Riscal Hotel, Spain

Guggenheim Museum Bilbao, Spain
Wallt Disney Concert Hall, LA

SANTIAGO CALATRAVA

The Alamillo Bridge Valencia, Spain
Princes Felipe Museum of Scince Valencia, Spain
Milwaukee Art Museum, NY

MINIMALIS KARYA ARSITEK JEPANG

White House in Fukui, karya Takuya Hosokai + Hiromasa Mori
Shigemi House, karya Takao Shiotsuka
The Garden and Sea, karya Takao Shiotsuka
The Garden And Sea, karya Takao Shiotsuka
Reflection of Mineral, karya Yasuhiro Yamashita

Penguin House, karya Yasuhiro Yamashita
Lucky Drops, karya Yasuhiro Yamashita

Sunday, May 29, 2011

Suisee Salon N Spa



Owner yang satu ini berkeinginan memiliki salon yang representatif dengan disain clean namun  elegan. Agak sulit awal nya, karena bangunan ini sudah ada. Renovasi ini terbentur kendala bagaimana menutup bangunan lama dengan tidak sampai  merusak nya. Konstruksi rangka besi / hollow dan beton cetak adalah solusinya. Maka terbentuklah komposisi bidang (beton cetak) dan kaca lengkung frameless ditambah perpaduan warna putih (pure white) dan putih tulang (broken white) untuk finising  membuat bangunan ini terlihat clean.

Arsitek: Anwar Rofiq
Lokasi:  Jl. Imam Bonjol Surabaya

Rumah Pojok





Keuntungan memiliki kavling tanah huk / pojok adalah kita bisa memiliki dua tampak bangunan yang kita rencanakan, dan itu sangat menarik untuk diolah pada saat proses disain. Tapi ada kerugiannya, tanah kita jadi makin kecil / berkurang karena aturan GSB (garis sempadan bangunan) dikedua sisinya. Contoh berikut bisa dijadikan acuan ketika kita mendisain.

Arsitek: Anwar Rofiq
Lokasi:  Pondok Mutiara Sidoarjo

Fasade Bangunan Klinik





Disain bangunan Klinik ini berkonsep simpel modern minimalis. Didominasi unsur kaca dan beton cetak ekspos (tanpa finising cat). Dengan sedikit sentuhan warna merah sebagai aksentuasi, banguan dua lantai ini terlihat mencolok di lingkungannya.

Arsitek: Anwar Rofiq
Lokasi:  Sidoarjo

Saturday, May 28, 2011

Kali Mas



Ini bukan Amsterdam atau Venesia, tapi Surabaya tempo dulu...
Lokasi sekitar Jembatan Merah. Sayang kondisi seperti ini makin jarang kita temui di kota ini,karena maraknya pembangunan mall tengah kota dan mengorban kan warisan cagar budayaberupa banguan2 kolonial yang punya nilai sejarah cukup penting. Peran pemerintah kota sangat diperlukandalam pengawasan pembangunan kota agar warisan ini tidak punah oleh kepentingan pelaku bisnis semata' Hilangnya' bangunan Stasiun Semut merupakan satu contoh konkret dimana pengawasan Pemkot begitu longgar......atau mereka bilang, kecolongan. Selamat Ulang Tahun Surabaya! 31 Mei 2011 yang ke 718.Teruslah membangun tanpa mengorbankan bangunan cagar budaya yang ada, bravo Surabaya!

Monday, May 23, 2011

'' Bamboo Architecture: Green School, Bali ''


The Green School, a giant laboratory built by PT Bambu, is located on a sustainable campus straddling both sides of the Ayung River in Sibang Kaja, Bali, within a lush jungle with native plants and trees growing alongside sustainable organic gardens. The campus is powered by a number of alternative energy sources, including a bamboo sawdust hot water and cooking system, a hydro-powered vortex generator and solar panels.
Green School Bamboo Ceiling
Green School Bamboo Ceiling
Campus buildings include classrooms, gym, assembly spaces, faculty housing, offices, cafes and bathrooms. A range of architecturally significant spaces from large multi-storey communal gathering places to much smaller classrooms are a feature of the campus. Local bamboo, grown using sustainable methods, is used in innovative and experimental ways that demonstrate its architectural possibilities. The result is a holistic green community with a strong educational mandate that seeks to inspire students to be more curious, more engaged and more passionate about the environment and the planet.
Green School Bamboo Architecture
Green School Bamboo Architecture
In Bali, the Green School has been making waves both for its construction and for its curriculum. TreeHugger has described it before:
The school’s 75 buildings are cooled and powered with renewable energy sources like micro-hydro power, solar power, and bio-diesel. Bamboo, lalang-alang grass (a local grass), and traditional mud walls form the structure of the buildings.
The school was carefully built on 20 acres of land and is on an organic permaculture system, designed to work in perfect cohesion with the natural ecology of the land. A thriving organic garden to be cultivated by the school’s own students will grow fruits and vegetables, herbs, and other crops including chocolate.


Green School Bamboo Architecture
Green School Bamboo Architecture
The school is also working towards disconnecting completely from the local electricity grid, generating its own power in several ways, including a simple but ingenious water vortex driven by the local river.
The children learn about conservation at first hand. Green School has its own aviary, which houses many Bali Starlings, a white bird with a striking blue mask. There are believed to be only 20 breeding pairs left in the wild.
Green School Bamboo Architecture
Green School Bamboo Architecture
The school, which is growing fast—132 students last year and on the verge of hitting 200 this year—has received numerous accolades, including an Aga Khan Award for Architecture.
Green School-Architect John Hardie
Green School-Architect John Hardie
The Green School curriculum combines the academic rigour expected of schools and institutions of higher learning with hands-on experiential learning within a Green Studies curriculum and a Creative Arts curriculum.  This means that by holding onto the essential core subjects of English, Mathematics and Science, Green School students will have doors open to them for whichever kinds of further learning and careers that they choose.
Green School Bamboo Architecture
Green School Bamboo Architecture
International in its teaching and learning, and in its clientele, our students come from different corners of the world to join a core Balinese community of scholars – representing up to 20% of our enrolment.  They bring with them their learning to date to share with their friends and to contribute to a global awareness and perspective of social issues from their countries of origin.
Green School Bamboo Architecture
Green School Bamboo Architecture
Volunteering:
The Green School is always looking for help on campus. From the classrooms, to supervising ECAs and from the library to the Warung. They are looking for volunteers with special skills or just a willing pair of hands.
Green School-Architect John Hardie
Green School-Architect John Hardie

Dancing Living House by Junichi Sampei / A.L.X. in Yokohama, Japan


Dancing Living House

Dancing Living House

Dancing Living House

Dancing Living House


Dancing Living House

Dancing Living House

Dancing Living House

Dancing Living House

Dancing Living House

Dancing Living House
Dancing Living House
Dancing Living House
CLICK IMAGES TO ENLARGE
The clients requested a house with a dance studio that would also serve as a living room and dining room. The size of the studio requested takes part of the second floor and is covered with mirrors and a thin curtain layer to counteract multi image occurrence. Soundproofing, natural light and ventilation had to co-exist throughout the building. Side windows were restricted to the absolute minimum while light pours in through a corner roof opening.
ARCHITECT: Junichi Sampei / A.L.X., Tokyo, Japan, www.xain.jp. LOCATION: Yokohama, Japan. AREA: 155.47 sq m. DATE: 2008.